Jadi Hiburan Semata

Ada harapan yang diinjak-injak oleh pendirian,

Ada talenta yang meronta butuh idealisme,

Kemudian ada kreativitas yang dipaksa telanjang tanpa identitas.

Siapa yang bertanggung jawab atas kesia-siaan ini?

Siapa pula yang berani berdiri di kakinya sendiri?

-AA-

Sia-sia

Aku menulis untuk mata yang tak kunjung mengering,

untuk bibir yang lelah mengeluh,

untuk rasa yang telah mati,

dan untuk hati yang terus disakiti.

Aku menulis untuk harapan yang kian terpendam,

untuk omong kosong yang tak kunjung kosong,

untuk pujian yang penuh kepalsuan.

Aku menulis untuk mereka yang lupa cara membaca.

-AA-

Singgah

Aku ingin tahu
Siapa yang sedang berlari dalam diam
Menjelajahi ruang dan waktu begitu dalam

Karena aku ingin datang pada masa lalu
Membawa bersamaku sang pilu
Menghampiri diriku yang terdahulu
Meminta agar jangan jadi benalu
Yang kelak berakhir pada rasa malu

Aku ingin tahu
Siapa yang sedang berlari dalam diam
Menjelajahi ruang dan waktu begitu dalam

Karena aku bosan pada masa kini
Bertemu diri yang terus begini
Ntah ini bergumam atau bersyukur
Yang pasti menunggu untuk tersungkur

Biar jatuh smakin jauh
Kemudian bersujud, mengeluh
Meminta agar tidak dipertemukan pagi,
Agar selamanya menjadi malam yang merugi

Rupanya diri ini nyaman dengan segala yang merugi
Hingga lupa kalau hidup tidak hanya untuk masa kini

Jadi, Aku sungguh ingin tahu
Siapa yang sedang berlari dalam diam
Menjelajahi ruang dan waktu begitu dalam

Karena aku bersemanyam dalam ragu
Menerka, apakah masih ada ruang untukku
Pada masa yang akan datang…

-AA-

Mengais Cita

Kemarin ibu datang dengan tangisnya
Meratabi nasibku yang enggan menyapanya

Ia peluk aku dengan iba
Berharap keberuntungan segera tiba

Ia berdoa untukku akan sebuah cinta
Berharap aku berhenti mengais cita

Tapi ini hidupku, Bu
Iya, memang penuh kelabu
Tapi sungguh aku sedang tidak meragu, Bu

Biar derasnya hujan membanjiri jalanku
Biar sunyinya malam menemani penantianku
Biar angan jadi panutanku

Sungguh, Bu…
Sungguh aku sedang tidak meragu

-AA-

Bermain-main dengan demokrasi

Jangan bermain-main dengan demokrasi.
Hak dan keadilan tidak butuh diskriminasi.
Kami tidak butuh janji dan hipokrisi.
Kami juga manusia, hidup dengan batas toleransi.

Dan sudah biarkan ini berakhir pada demonstrasi.
Biarkan kami turun, biarkan jalan jadi saksi.
Kini, sudah kami bangun resistensi.
Enggan menerima permainan dadu untuk negeri ini.

-AA-

Kepada para Pengusik

Ada jemari yang mengikat janji,
Pada selebaran yang lusa penuh arti.
Namun kata demi kata dibuat tanpa arti,
Seolah kami terlampau bodoh untuk mengerti.

Ada perwakilan yang bergema propaganda,
Namun berakhir pada adu domba.
Ada juga yang gemar mengusik hak pada perkara,
Kemudian berdiam saat diajak bicara.

Pak, jika ingin mempertinggi diri,
Jangan minta kami untuk membuatkan tangganya.
Jika kemudian ingin membakar diri,
Jangan juga minta kami untuk membersihkan abunya.

-AA-

Midnight Admiration

You are a poignant art
A mosaic
Made of loneliness and bitterness
Tesserae of forlornness

You are a poignant art
An abstraction
Everything about you is tragedy
Sculptured in mayhem and anarchy

But I admire you,
Anyway….

Regards,
Your selfless admirer

-AA-

Rahasia Kita

Aku bersanding pada ara,
Mengikat janji pada dia yang tidak bicara.
Kemudian yang ramai mulai berteriak,
Menggonggong di balik sebuah barak.
Namun, aku di sini pada diam.
Terhimpit antara titik dan koma;
Haruskah aku berhenti atau lanjutkan?

-AA-

Ketidaktahuan

Kali ini,
Aku menulis pada ketidaktahuan.
Pada tanda tanya yang menjamur tidak karuan.
Pada setiap mengapa dan bagaimana.

Kali ini,
Aku bersandar pada ketidaktahuan.
Pada segala yang menyuluh kebingungan.
Pada abu-abu dan tabu.

Kali ini,
Biarkan aku menurut pada ketidaktahuan.
Biarkan tumbuh kekosongan,
Yang menganga tanpa pengakuan.
Pertanyaan tanpa jawaban.

Untuk kali ini saja,
Biarkan aku memilih,
Untuk tidak tahu.

Kepada mereka yang memilih pada ketidaktahuan, menjadi tidak tahu.

-AA-